This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, June 18, 2014

Rukyah Shalihah bagian dari pembuktian keberadaan Rasulullah SAW


Dan, untuk memahami secara musyahadah keberadaan Rasulullah Saw, tidak ada jalan lain kecuali melalui rukyah shalihah.
a. Imam Thabrani, bertemu Rasulullah Saw yang tersenyum. Dari lesung pipit Rasulullah Saw memancarkan sinar yang memenuhi alam semesta. (kitab Sa’adah ad-Daraini-nya Syeh Nabhani Ra dalam bab “ta’birur rukyah”).
b. Sahabat Ali bin Abu Thalib dan sahabat lainnya. Suatu saat berjalan bersama Rasulullah Saw didaerah perbukitan. Tiba-tiba, terdengar suara (kur bersama) yang dari bebatuan dan pepohonan bebaruan. Mereka mengucapkan : السَلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ (Kitab Dalail an-Nubuwwah-nya Imam Baihaqi)
c. Abu Hurairah berkata : Aku bermimpi melihat seseorang yang berpakaian putih bersih. Diatas kepalanya ada mahkota yang bertahtakan intan berlian. Orang yang disebelahnya bertanya : Apa yang dilakukan Allah Swt terhadapmu ?. Orang berjubah menjawab : Allah Saw mengampuniku, memulyakan diriku serta memasukkanku kedalam surga. Seseorang bertanya lagi : Dengan apa ?. Orang berjubah menjawab : Dengan shalawat yang sering kusanjungkan kepada Rasulullah Saw. (kitab Duruul Mandlud-nya Imam Ibnu Hajar al-Haitami, pada bahasan rukyah shalihah).
d. Seorang lelaki yang shalih bercerita kepada Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Bahwa ia mimpi didekati wanita yang berwajah sangat buruk. Lelaki tersebut bertanya kepada wanita : Siapa engaku ?. Aku adalah amal burukmu. Jawab wanita. Bagaimana cara mengusirmu jauh dari aku, tanya lelaki. Wanita menjawab : dengan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Saw
e. Abdullah bin al-Hakam (diantara pembesar ulama madzhab Syafi’i). • Beliau mimpi bertemu Imam Syafi’i, yang mengalami kebahagian dalam alam barzah. Kepada Imam Syafi’i Ibnul Hakam bertanya : Wahai Imam, mengapa Tuan mendapatkan hal yang demikian ?. Imam Syafi’i menjawab : “Seluruh amal kebaikanku diterima oleh Allah Swt, dan kesalahanku diampuni-Nya”. Sebab apa Allah berbuat demikian kepada Tuan ?, tanya Ibnul Hakam. Jawab Imam Syai’i : “Karena aku menuliskan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, setiap aku menulis namanya dalam kitab-kitab yang aku tulis”.

Membeli waktu


Pada suatu hari, seorang Ayah
pulang dari bekerja pukul 21.00
malam. Seperti hari-hari
sebelumnya, hari itu sangat
melelahkan baginya.
Sesampainya di rumah ia mendapati anaknya yang
berusia
8 tahun yang duduk di kelas 2
SD
sudah menunggunya di depan
pintu rumah. Sepertinya ia sudah
menunggu lama. “Kok belum
tidur?” sapa sang
Ayah pada anaknya. Biasanya
si anak sudah lelap
ketika ia pulang kerja, dan baru bangun ketika ia akan bersiap
berangkat ke kantor di pagi
hari. “Aku menunggu Papa
pulang,
karena aku mau tanya berapa
sih gaji Papa?”, kata sang anak.
“Lho, tumben, kok nanya gaji
Papa segala? Kamu mau minta
uang lagi ya?”, jawab sang
ayah. “Ah, nggak pa, aku
sekedar..pengin tahu aja…” kata
anaknya
.
“Oke, kamu boleh hitung
sendiri.
Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000.
Setiap bulan rata-rata dihitung
25
hari kerja. Jadi gaji Papa satu
bulan berapa, hayo?!”, tanya
sang ayah. Si anak kemudian berlari
mengambil kertas dari meja
belajar sementara Ayahnya
melepas sepatu dan mengambil
minuman. Ketika sang Ayah ke
kamar untuk berganti pakaian, sang
anak mengikutinya. “Jadi kalau
satu hari Papa
dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam,
berarti satu jam Papa digaji Rp
40.000 dong!” “Kamu pinter, sekarang tidur
ya..sudah malam!” Tapi sang
anak tidak mau
beranjak. “Papa, aku boleh
pinjam uang Rp 10.000 nggak?”
“Sudah malam nak, buat apa minta uang malam-malam
begini.
Sudah, besok pagi saja.
Sekarang
kamu tidur” “Tapi papa..”
“Sudah, sekarang tidur” suara sang Ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju
kamarnya. Sang Ayah tampak
menyesali
ucapannya. Tak lama kemudian
ia menghampiri anaknya di
kamar.
Anak itu sedang terisak-isak
sambil memegang uang Rp
30.000. Sambil mengelus kepala
sang anak, Papanya berkata “Maafin
Papa ya! Kenapa kamu minta
uang malam-malam begini..
Besok kan masih bisa.
Jangankan
Rp.10.000, lebih dari itu juga boleh. Kamu mau pakai buat
beli
mainan khan?” “Papa, aku ngga
minta uang.
Aku pinjam…nanti aku
kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang
jajanku.” “Iya..iya..tapi buat
apa??”
tanya sang Papa. “Aku
menunggu Papa pulang
hari ini dari jam 8. Aku mau ajak
Papa main ular tangga. Satu jam
saja pa, aku mohon. Mama
sering
bilang, kalau waktu Papa itu
sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu Papa. Aku buka
tabunganku, tapi cuma ada
uang
Rp 30.000. Tadi Papa bilang,
untuk
satu jam Papa dibayar Rp 40.000..
Karena uang tabunganku
hanya
Rp.30.000,- dan itu tidak cukup,
aku mau pinjam Rp 10.000 dari
Papa” Sang Papa cuma terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Ia pun
memeluk erat anak kecil itu
sambil menangis. Mendengar
perkataan anaknya, sang Papa
langsung terdiam, ia seketika
terenyuh, kehilangan kata-kata dan menangis.. Ia lalu segera
merangkul sang
anak yang disayanginya itu
sambil menangis dan minta
maaf
pada sang anak.. “Maafkan Papa sayang…” ujar
sang Papa. “Papa telah khilaf,
selama ini
Papa lupa untuk apa Papa
bekerja keras. Maafkan Papa
anakku” kata sang Papa ditengah suara tangisnya. Si
anak hanya diam membisu
dalam dekapan sang Papanya.


Thariqah Dalam al-Qur’an Dan Hadis


Asal makna “thariqah” adalah jalan jalan untuk meraih atau menuju kepada sesuatu baik duniawi maupun ukhrawi. Kadang kata thariqah diartikan dengan kaifiyah atau manhaj (cara, system atau metode). Kemudian dalam kaidah tasawuf diartikan; jalan untuk menuju sadar (makrifat) kepada Allah Swt. Dengan makna seperti ini, setiap jalan kebaikan - lebih-lebih bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw - dapat dijadikan thariqah. Dengan demikian, Shalawat Wahidiyah dapat juga dikatakan sebagai “THARIQAH”/ jalan (cara, sistem, metode atau kurikulum) untuk menuju hadratullah Yang Maha Esa. Hanya saja yang berkaitan dengan sanad dan silsilah (tthariqah pada umumnya), bukan sebagaimana makna sanad/ silsilah thariqah/ tarekat yang terdefinisikan dalam tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Tijaniyah dan sebagainya yang memerlukan bai’at langsung (antara murid dan guru) serta adanya rantaian sanad atau silsilah secara lahiriyah. Sedangkan pemaknaan shalawat sebagai thariqah, sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ulama sufi yang menjadikannya sebagai amalan sunnah yang utama dan dapat digunakan untuk mendekat kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw.
Makna kata THARIQAH - sebegaimana penjelasan dari Syeh Abdullah bin Alwi al-Haddad Ra dalam kitab Da’wah at-Tammah -, terbagi kedalam dua bagian; umum dan khusus.
1. Thariqah umum, adalah segala amal shalih yang diizinkan oleh syariah Islam serta diamalkan secara sungguh-sungguh dan istiqamah (kontinyu) dengan menghayati makna yang terkandung didalamnya secara seksama. Ta’rif seperti ini pada umumnya diperuntukkan bagi ummat awam agar memahami makna yang terkandung didalam setiap ritual rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji).
Para ulama salafus shalih (ulama terdahulu yang shalih) mengatakan : tahriqah (amalan yang baik) adalah jalan kebaikan yang diridlai dan memiliki dasar dari sunnah Rasullah Saw baik secara tersurat atau tersirat.
وَهِيَ طَرِيْقَّةٌ مَرْضِيَةٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حُسْنُهَا بِالنَصِّ بَلْ بِالإِسْتِنْبَاطِ
Thariqah (jalan) yang diridlai Allah, walaupun kebaikannya tidak terdapat dalam nash (secara langsung/ tersurat), akan tetapi melalui istinbath (makna tersirat yang digali dari dari nash tersurat.[2]
2. Thariqah khusus adalah jalan kebaikan yang berkaitan dengan akhlak hati (sabar, ridla, tawakkal, mahabbah, taqwa, khusyu’, khudlu’ makrifat dan sifat keutamaan lainnya) yang disusun urutan cara pengamalannya oleh para ulama yang ahli. Pada umunya tarekat khusus ini memiliki persyaratan yang berat, dan hanya mampu dilakukan oleh para ulama kelas berat.
Pada umumnya pembedaan kedua difinisi tersebut, terletak dalam urutan tatacara pengamalan akhlak saja (taubat, syukur, ridla, qana’ah dan seterusnya). Atau pensimpelan beberapa jenis akhlak yang sepadan menjadi satu akhlak (ridla dan qana’ah, yang dijadikan satu dalam ridla atau dalam qana’ah). Artinya, kemampuan perjuangan orang awam dalam mencapai akhlak hati, tidak setinggi kemampuan para arifin. Jika para ulama Arif billah dapat merealisasikan anjuran akhlak secara keseluruhan dari macam-macam jenis akhlak yang dituntunkan oleh sunnah rasul. Sedangkan orang awam hanya mampu mencapai beberapa jenis akhlak saja, dan itupun secara global. Meski demikian, hasil antara kedua jenis tarekat tersebut adalah sama. Mengapa demikian ?. Hasil dari tarekat tergantung pada kebijakan metode/ kurikulum dan doa Mursyid Kamil Mukammil Ra, serta fadlal dari Allah Swt.
Secara global, pengertian tarekat, adalah jalan untuk meraih akhlakul karimah, yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Kemudian, para ulama sufi menyusun rinciannya. Rincian dan ulasan tersebut dapat dianggap benar, bila memiliki dasar yang kuat dari al-Qur’an dan hadis, dapat mengantarkan pengamalnya bertemu Rasulullah Saw, serta kedalam kehidupan yang bersyariat dan berhakikat.
a. Qs. al-Ankabut : 69 : وَالذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَ اللهِ لَمَعَ المُحْسِنَينَ.:
Dan orang-orang yang senantiasa bermujahadah (berjuang bersungguh-sungguh) dijalan-Ku, sungguh niscaya Kami akan menunjukkan (lagi) kepada jalan-Ku. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan (dapat mencapai derajat iman yang ihsan).
Para ulama kaum sufi, mengartikan kata “subul” dalam ayat 69 surat al-Ankabuut, sepadan dengan makna tarekat untuk menuju iman dan ihsan. Sedangkan makna mujahadah, adalah memerangi akhlak hati yang buruk (nafsu) secara sungguh-sungguh, dan menggantinya dengan akhlak yang baik.[3] Sebagaimana keterangan yang diberikan oleh Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya (tafsir al-Qurthubi) :
وَمِنْهُ مُجَاهَدَةُ النُفُوسِ وَهُوَ جِهَادُ الأكْبَر :
Dan diantara berjuang dengan sungguh-sungguh adalah memerangi nafsu. Dan itulah perang terbesar.
b. Firman Allah Swt Qs. al-Jin : 16 :
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَرِيْقَةِ لأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا :
Dan jika sekiranya mereka beristiqamah (terus menerus) diatas thariqah, niscaya Kami akan memberikan minum air (rizki yang banyak) yang segar. [4]
Ayat 16 surat al-Jin ini, menjelaskan bahwa beristiqamah dalam melaksanakan suatu amalan yang baik, akan menyebabkan turunnya fadlal dari Allah Swt yang digambarkan dengan air yang segar.
Diantara kesimpulan yang dapat diambil dari :
1. Tanda-tanda subul/ thariqah yang memperoleh hidayah Allah Swt adalah jika amalan tersebut dapat mengantarkan pengamalnya kepada derajat ihsan [5] (sadar dan makrifat kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw). Dengan kata lain, membawa mukmin kepada praktek trhadap sunnah rasul secara syariat dan hakikat.
2. Dengan beristiqamah dalam bermujahadah, hati mukmin akan terpancari oleh hidayah-Nya (nur ilahiyah), hingga dapat menghayati makna yang terkandung didalam ritual ibadah (yang diwajibkan atau disunnahkan) baik ucapan atau perbuatan.
1. Sunnah ulama.
Banyak manusia dalam memandang tuntunan agama terbatas ritual lahiriyah/ syari’ah saja. Maka, agar Islam tetap berjalan diatas landasan Islam yang murni (syariat dan hakikat), para ulama yang ahli diperintahkan untuk menggali dan mancari cara (metode/ sunnah/ kurikulum/ thariqah) agar sunnah rasul dan sunnah sahabat, mudah untuk dipahami dan diamalkan oleh orang mukmin. HR. Muslim, Rasulullah Saw bersabda : [6]
مَنْ سَنَّ فِي الاِسْلاَمِ سُنَّةَ حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الاِسْلاَمِ سُنَّةَ سَيِّئَةً كَانَ َلَه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُوزَارِهِمْ شَيْئٌ
Siapa saja yang membuat sunnah dalam Islam, dengan sunnah yang baik, maka baginya pahala dan pahala dari orang yang mengamalkan sunnah tersebut dengan tanpa mengurangi pahala dari pengamalnya sedikitpun. Siapa saja yang membuat sunnah dalam Islam, dengan sunnah buruk, maka baginya dosa dan dosa dari orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya dengan tanpa mengurangi dosa dari pengamalnya sedikitpun.
Dalam kitab Dalil al-Falihin Lithuruqqi Riyadl as-Shalihin juz I/ 442 diterangkan; para ulama terdahulu (salafus shalih) berpendapat : thariqah (system/ metode/ amalan) adalah jalan kebaikan yang memiliki dasar (baik secara tersurat atau tersirat) dari sunnah Rasullah Saw :
وَهِيَ طَرِيْقَّةٌ مَرْضِيَةٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حُسْنُهَا بِالنَصِّ بَلْ بِالإِسْتِنْبَاطِ
Sunnah, adalah thariqah (jalan) yang diridlai Allah, walaupun kebaikannya tidak terdapat dalam nash (tersurat), akan tetapi melalui istinbath (makna tersirat).[7]
Bahkan dalam hadis riwayat Imam Thabrani, dijelaskan didalam syariah Islam terdapat 360 macam thariqah/ sistem. Rasulullah Saw bersabda : [8]
إِنَّ شَرِيْعَتِي جَاءتْ عَلَى ثَلاَثِمِائَةٍ وَسِتِّيْنَ طَرِيْقَةً. مَا سَلَكَ أَحَدٌ مِنْهَا إِلاَّ نَجَا
Sesungguhnya syariat-ku datang dengan 360 thariqah (jalan, cara, sistem). Tidak seorang-pun mengambil dari salah satunya, kecuali mendapat keselamatan.
Dan dalam catatan jam’iyah thariqah an-nahdliyah (bernaung dibawah Nahdlatul Ulama),
jumlah thariqah yang masyhur (mu’tabarah) sebanyak 44 thariqah. Sedangkan thariqah selain yang tercatat dalam jam’iyah NU tersebut hukumnya SAH dan BAIK, selama berpedoman kepada aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dan merujuk kepada kitab-kitab sunny yang mu’tabar.[9]
Sebagaimana lazimnya dalam kehidupan setiap agama, setelah ditinggal oleh pembawanya, terjadi penyimpangan oleh sebagian pengikutnya. Namun, dalam Islam, Allah Swt menolong ummatnya, dengan memberikan petunjuk kepada para ulama yang dikehendaki-Nya. Ulama tersebut dengan sekuat tenaga berupaya membersihkan Islam dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Diantara sunnah para ulama :
a. Pembersihan dari pemalsuan hadis.
Dicatat dalam sejarah, pemalsuan hadis terjadi setelah khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Ra). Hasil dari upaya para ulama tersebut telah dibukukan dalam berbagai macam kitab hadis yang mu’tabar.[10]
b. Pembersihan dari usaha pendangkalan makna ayat-ayat al-Qur’an dan hadis.
Sebagian mukmin dalam memahami al-Qur’an dan al-Hadis serta syariat Islam, hanya secara harfiah (verbalisme), tanpa mau mengambil makna dibalik teks (tafsir isyari).
c. Pembersihan dari penyimpangan makna ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan iman kepada Allah Swt, dan yang telah disepakati oleh para sahabat.
Para ulama kaum sufi, khususnya al-Ghauts Ra lebih memfokuskan upaya mereka dalam bidang pelurusan iman, penyadaran keberadaan dan keagungan Rasulullah Saw, pembersihan jiwa dari penyakit hati yang buruk (syirik, ujub, riya’, takabbur dan lain sebagainya) dan menghiasi hati dengan sifat-sifat yang terpuji (ihsan, sabar, syukur, dan sifat terpuji lainnya).
d. Pembersihan dari paham yang mengutamakan tuntunan lahiriyah (syariat) saja tanpa memperhatikan tuntunan batiniyah (hakikat), atau sebaliknya. keduanya merupakan ajaran Islam yang tidak boleh dipilih salah satunya. Setiap mukmin wajib memadukan keduanya. [11]
e. Menta’lif redaksi doa/ dzikir atau shalawat ghairu maktsurah.
Rasulullah Saw telah memberikan tuntunan yang mudah serta jelas. Yakni mengamalkan shalawat nabi dan memahami maknanya. Para ulama dari kelompok ketiga tersebut, dalam menyusun doa, senantiasa disertai dengan bershalawat, atau dalam menyusun sebuah metode, system, kurikulum atau thariqah untuk mencapai iman dan Islam yang ihsan.
Memahami keberadaan dan keagungan Rasulullah Saw, merupakan sarana yang paling tepat dan cepat untuk memahami keagungan Allah Swt, dan merupakan realisasi dari keimanan yang telah diterangkan dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadis. Tanpa melalui Rasulullah Saw, sudah tentu salik akan dibimbing oleh setan.
f. Menta’lif redaksi doa yang pada umumnya didalamnya mengandung makna ajaran tentang pentingnya bertawassul kepada Nabi Saw.
Al-Qur’an dan hadis telah memberikan tuntunan dalam mencapai dan menyempurnakan iman dan ihsan, yakni bertawassul kepada Rasulullah Saw :
1. Firman Allah Swt, Qs. al-Maidah : 35 :
يَاأيُّهَا الذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah. Dan carilah wasilah (media/ thariqah) untuk menuju kepada-Nya. Dan sunguh-sungguhlah kamu semua didalam jalan (menuju kepada)-Nya agar kamu semua memperoleh keberuntungan.
2. HR. Imam Ahmad Ibn Hanbal, Rasulullah Saw bersabda : [12]
الوَسِيْلَةُ دَرَجَةٌ عِنْدَ اللهِ لَيْسَ فَوقَهَا دَرَجَةٌ فَسَلُوا اللهَ أَن يُؤْتِيَنِي الوَسِيْلَةَ
Wasilah adalah derajat disisi Allah, yang tidak ada derajat lagi. Maka mohonkan aku kepada Allah, agar Ia memberiku derajat wasilah.
Asal makna wasilah adalah perantara. Para ulama kaum sufi mengartikan kata wasilah sepadan arti dengan makna kata thariqah dalam ayat 16 surat al-Jin. Penafsiran kata wasilah dalam ayat ini secara tepat adalah sebagaimana dijelaskan oleh hadis riwayat dari Ibnu Amr, Rasulullah Saw bersabda :[13]
إِذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُوْلُوا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ فَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ بِهَا عَشْرًا. ثُمَّ سَلُّوا اللهَ لِي الوَسِيْلَةَ. فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَتَنْبَغِي إِلاَّ لِعِبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ. وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ. فَمَنْ سَأَلَهَا لِيَ الوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَفَاعَةُ.
Ketika kalian mendengar muaddzin, ucapkanlah sebagaimana ia mengucapkannya. Kemudian bershalawatlah kalian kepadaku. Sesungguhnya, barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya dengan shalawatnya tersebut sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kamu semua untukku “WASILAH”. Sesungguhnya wasilah adalah tempat yang mulya dalam surga, yang mana (tempat itu) tidak patut kecuali diperuntukkan bagi satu hamba dari beberapa hamba-Nya. Barang siapa memohonkan untukku wasilah, maka ia halal mendapat syafaat (dariku).
Syekh as-Sindi, dalam memberikan penjelasan makna ‘wasilah” dengan :
لاَيُخْرَجُ رِزْْقٌ وَمَنْزِلَةٌ إِلاَّ عَلَى يَدَ يْهِ وَبِواَسِطَتِهِ :
Tidak keluar (dari Allah) rizki dan kedudukan, kecuali ditangan Rasulullah dan dengan perantaraannya. (Sunan Nasa’i bi Hasyiyah as-Sindi juz II, bab shalawat)
Hadis riwayat Imam Muslim (Shahih Muslim, bab “adzan”), Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ الوَسِيْلَةَ أَعْلَى مَنْزِلَةٍ فِي الجَنَّةِ وَلاَ يَنَالُهَا إِلاَّ رَحُلٌ وَأَنَا أَرْجُو مِنْ ذَالِكَ الرَّجُلِ
Sesungguhnya wasilah itu setinggi-tinggi tempat dalam surga, dan tidak dapat memperolehnya kecuali seorang lelaki. Dan Aku berharap sebagai lelaki tersebut.
Sebagaimana ketentuan Allah Swt (sunnatullah), semua pertolongan yang Dia berikan kepada makhluk-Nya, disalurkan melalui makhluk lainnya. Misalnya, air dapat menghilangkan haus, nasi (snack) dapat mengilangkan lapar, racun dapat mematikan. Kekuatan menghilangkan haus dan lapar, atau mematikan tersebut pada hakikinya adalah kekuatan Allah Swt yang dipancarkan kepada benda tersebut. Mukmin mendekati air atau nasi, serta menghindari racun, hakikinya yang didekati adalah kekuatan Allah Swt. Demikian pula, mukmin mendekat waliyullah Ra atau Rasulullah Saw, hakikinya untuk mencari karamah serta mukjizat Allah Swt semata yang dipancarkan melalui hamba-Nya tersebut. Dalam hail ini, al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Yusuf bin Ismail an-Nabhani Ra (w. 1933 M), menjelaskan : [14]
وَأَمَّا النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ وَاسِطَةً بَينَهُ وَبَيْنَ اللهُ. فَهُوَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُسْتَغَاثُ بِهِ حَقِيْقَةً.
Nabi Muhammad Saw, merupakan perantara antara hamba dan Allah. Dan secara hakiki Dia
(Allah) Swt adalah merupakan tempat meminta pertolongan.
HR. Imam Nasai (kitab Amalul Yaum wal Lailah, nomer hadis : 663 – 665, dan yang di-shahih-kan oleh al-Bahihaqi) dari Usman bin Hunaif. Dia berkata : Orang buta menghadap kepada Rasulullah Saw dan meminta untuk didoakan agar Allah Swt memberikan kesembuhan matanya, hingga dapat melihat kembali. Rasulullah Saw bersabda : Ucapkanlah :
أَللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ بِكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَحْمَةِ. يَامُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي قَضَاءِ حَاجَتِي لِيْ, اللهُمَّ شَفِّعْهُ فِي.
Ya Allah, sungguh aku meminta kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammad Saw, Nabi pembawa rahmat.[15] Wahai Nabi Muhammad, sungguh aku menghadap Allah melalui Paduka, agar hajatku ini terkabulkan. Ya Allah, berikanlah syafaat kepadanya dalam hal ini.
Memahami pentingnya memiliki guru yang ahli dalam bidang iman, Islam dan ihsan, yakni al-Ghauts Ra (wakil Rasulullah Saw pada setiap zaman) merupakan asas dalam sunnah rasul. Sebagaimana keterangan dalam hadis riwayat Thabrani dari Abdullah Ibn Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda : [16]
إِنَّ مِنَ النَاسِ مَفَاتِيْحٌ لِذِكْرِ اللهِ إِذَا رَأَوْا ذُكِرَ الله ُ :
Sesungguhnya diantara manusia, terdapat seseorang yang menjadi pembuka kepada dzikrullah. Jika mereka (salik) melihatnya, maka akan (mudah) ingat kepada Allah.
Hadis yang sepadan arti, Rasulullah Saw bersabd : [17]
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ ؟. قَالُوا : بَلَى يَارَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : الَّذِيْنَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللهُ
Bersediakah kamu, saya beritahu tentang sebaik-baik kamu ?. Mereka menjawab : Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda : Mereka adalah orang-orang yang ketika dilihat, maka Allah dapat diingat.
Imam Abul Aliyah dan Imam Hasan Bashri, berkata : makna shirathul mustaqim, dalam surat al-Fatihah, adalah pribadi Rasulullah Saw :
الصِرَاطُ المُسْتَقِيْمُ هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخِيَارُ أَهْلِ بِيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ.
Jalan yang lurus adalah pribadi Rasulullah Saw dan orang pilihan dari keluarganya dan sahabatnya.[18]
Wasilah merupakan kedudukan tertinggi disisi Allah Swt yang diperoleh oleh satu orang dari beberapa hamba-Nya (Rasulullah Saw). Dan adanya perintah agar mukmin mencari seseorang yang telah mencapai maqam wasilah, bertujuan jika mereka melaksanakan tawajjuh kepada Allah Swt melalui orang (Rasulullah Saw) tersebut. Dan barulah mukmin dapat meraih derajat ihsan. Berwasilah kepada Rasulullah Saw atau al-Ghauts Ra dapat dinamakan pengamalan thariqah. Syeh Abdul Qadir al-Jilani Ra menjelaskan; bahwa Syeh Mursyid yang kamil itulah yang dinamakan thariqah untuk menuju makrifat kepada Allah Swt.
فَالمَشَايِخُ هُمْ طَرِيْقٌ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالأَدِلاَّءُ عَلَيْهِ وَالبَابُ الذِي يَدْخُلُ مِنْهُ إِلَيْهِ.
Guru Mursyid adalah jalan menuju kepada Allah Azza wa Jalla, dan sebagai bukti keberadaan-Nya, dan sebagai pintu masuk untuk menuju kepada-Nya. [19]
Demikian pula, Syeh Daud Ibnu Makhala Ra dapat menjelaskan :
قَلْبُ العَارِفِ حَضْرَةُ اللهِ, وَحَوَاسُهُ اَبْوَابُهَا. فَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيْهِ بِالقُرْبِ المُلاَ ئِمِ فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ الحَضْرةِ
Hati seorang yang Arif Billah itu pintu kehadiran Allah Swt, dan seluruh indranya merupakanpintu hadrah-Nya. Barang siapa yang mendekat kepada Beliau dengan pendekatan yang semestinya, maka akan terbuka baginya pintu hadlrah Allah Swt. [20]
Demikian pentingnya peranan Guru Ruhani Yang Kamil Mukammil dalam jiwa manusia. Manusia hanya memiliki dua pilihan antara mencari Guru Kami Mukammil untuk membimbing jiwanya atau membiarkan setan dan nafsu mencengkeram jiwanya dan kemudian membelokkan dari pemahaman tauhid yang benar. Dan agar dapat mencengkeram jiwa manusia, setan/ nafsu senantiasa membisikkan tidak perlunya mencari Guru yang kamil, serta mencukupkan dengan pemahaman diri sendiri. Sebagai pengamal dan pejuang Wahidiyah, perlu kiranya benar-benar melawan bisikan hati yang muncul dari setan/ nafsu. Allah Swt berfirman Qs. an-Nisa’ : 38, dan al-Baqarah : 208:
وَلاَ تتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ :
Janganlah kalian mengikuti panduan setan. Sungguh ia merupakan musuh yang nyata bagi kalian.
Keempat ayat tersebut diatas, mengisyaratkan adanya guru ruhani yang cara membimbing manusia menuju Tuhan bukan berdasar dari sesuatu yang digariskan oleh Rasulullah Saw, akan tetapi melalui garis-garis yang dibisikan oleh iblis/ setan/ nafsu kedalam jiwanya. Guru ruhani yang jiwanya dikuasai oleh nafsu/ setan, al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Abdul Wahhab as-Sya’rani Ra, dalam kitabnya, [21] menjelaskan :
وَقَدْ أَدْرَكْنَا جُمْلَةً مِنَ أَشْيَاخِ الطَرِيْقِ أَوَّلَ هَذَا القُرُنِ, كَانُوا عَلَى قَدَمٍ عَظِيْمٍ فِي العِبَادَةِ وَالنُسُكِ وَالوَرَعِ وَالخَشْيَةِ وَكَفِّ الجَوَارِحِ الظَاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ عَنِ الأَثَامِ حَتَّى لاَيَجِدُ أَحَدُهُمْ قَطُّ يَعْمَلُ شَيْئًا يَكْتُبُهُ كَاتِبُ الشِمَالِ. وَكَانَ لِلطَرِيْقِ حُرْمَةٌ وَهَيْبَةٌ وَكَانَ الأُمَرَاءُ وَالمُلُوكُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِأَهْلِهَا لَمَّا يُشْهِدُونَهُ مِنْ صِفَاتِهِمْ الحَسَنَةِ. فَلَمَّا ذَهَبُوا زَالَتْ حُرْمَةُ الطَّرِيْقِ وَأَهْلِهَا. وَصَار النَاسُ يَسْخَرُونَ بِأَحَدَهِمْ وَيَقُولُونَ لِبَعْضِهِمْ : مَادَرَيْتُمْ مَاجَرَى, فُلاَنُ الأَخَرُ عَمِلَ شَيْخًا ؟. كَأَنَّهُمْ لاَيُسَلِّمُونَ لَهُ مَا يَدْعِيْهِ لَمَّا هُوَ عَلَيْهِ مِنْ مَحَبَّةِ الدُنْيَا وَالتَّلَذُّذِ بِمُطَاعِمِهَا وَمَلاَبِسِهَا وَمَنَاكِحِهَا وَالسَعْيِ عَلَى تَحْصِيْلِهَا. حَتَّى إِنِّي قُلْتُ لِبَعْضِ التُجَّارِ لِمَ لاَ تَجْتَمِعُ بِالشَيْخِ الفُلاَنِيْ. فَقَالَ : إِنْ كَانَ شَيْخًا فَأَنَا الأَخَرُ شَيْخٌ, فَإِنَّهُ يُحِبُّ الدُّنْيَا كَمَا أُحِبُّهَا وَيَسْعَى فِيْ تَحْصِيْلِهَا كَمَا أَسْعَى, بَلْ هُوَ أَشَدُّ مِنِّي سَعْيًا عَلَى الدُنْيَا.
Kami mendapati beberapa Guru Mursyid [22] pada awal abad ini. Mereka diatas pondasi yang agung dalam ibadah, amal baik, wara’ (sangat hati-hati dalam masalah halal haram), khasy’yah (benar-benar takut kepada Allah), menjaga anggauta tubuh baik lahir atau batin dari dosa sama sekali. Hingga malikat pencatat amal jelek (pencatat bagian kiri) tidak mendapatkan catatan jelek. Didalam thariqah terdapat kehormatan dan kewibawaan. Dan ketika mereka melihat kebaikan serta kemulyaan akhlak para guru sufi, para pejabat dan para raja memohon berkah kepada para ahli thariqah. [23]
Namun, setelah mereka tidak tiada, hilanglah kehormatan tarekat dan pengamalnya. Dan manusia merendahkan para pengamal tarekat. Diantara masarakat ada yang berakat kepada kawannya. Tahukah kamu apa yang terjadi, didalam lingkungan orang-orang yang menjadi guru mursyid ?. Mereka sudah tidak mau memahami lagi terhadap apa yang dida’wakan masarakat kepada mereka. Karena mereka (para guru mursyid) sudah hanyut dalam cinta dunia (dan kehormatan) dan syahwat dunia, serta kelezatan makanan, pakaian dan pernikahan dunia.Mereka lari cepat untuk memperolehnya.
Hingga aku – demikian keterangan Syeh Sya’rani – bertanya kepada salah satu pedagang: “Mengapa saudara tidak berguru kepada Syeh yang bernama Fulan ?. Jawab pedagang : Jika ia guru mursyid, akupun guru mursyid. Dia mencintai dunia seperti aku mencintainya. Dia lari untuk mengejarnya, sebagaimana aku juga lari untuk mengejarnya, bahkan dia lebih kencang larinya.
Rasulullah Saw juga memberi peringatan kepada mukmin, agar tidak berguru atau mengikuti pemimpin ruhani yang menyesatkan. Guru semacam ini bukan membawa kedalam pencerahan jiwa, tapi akan membawa dalam kebutaan hati serta bodoh tentang makna sunnah dan bid’ah serta bodoh tentang penyakit hati yang melekat dalam jiwa setiap manusia :[24]
إِنَّمَاأَخْوَفُ مَاأَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الآَئِمَّةُ المُضِلِّوْنَ
Sesungguh yang paling Aku takutkan kepada ummat-Ku, adalah pemimpinan yang menyesatkan.
Demi keselamatkan aqidah ummat masarakat, Perjuangan Wahidiyah memberikan amalan berupa shalawat Wahidiyah, yang didalamnya terdapat doa permohonan kepada Allah Swt, agar Dia memperkenankan Rasulullah Saw menampakkan keagungannya, dan juga kepada Beliau Ghauts Hadzaz Zaman Ra, agar siapapun yang dengan tekun dalam mengamalkannya, akan mendapat hidayah-Nya Allah dapat memahami kebaradaan pribadi Rasulullah Saw dan Ghauts Hadzaz Zaman Ra secara musyahadah.
KETERANGAN :
[1]. Kutipan dari buku Bahan Upgrading Dai Wahidiyah (cetakan YPW Pusat).
[2] Kitab Dalil al-Falihin Lithuruqqi Riyadl as-Shalihin-nya Ibnu Allan al-Azizi, juz I/ 442.
[3]. Istilah yang masyhur dalam memerangi nafsu : takhalli (membersihkan hati dari sifat tercela, tahalli (mengisi hati dengan sifat terpuji) dan tajalli (Allah Swt membuka hati mukmin, hingga dapat melihat kebesaran-Nya_.
[4]. Terlepas setuju atau tidak, ayat diatas dijadikan oleh kaum sufi sebagai pendorong dalam mengamalkan amalan sunnah (amal shalih/ THARIQAH) secara istiqamah. Dan alhamdulillah setelah mereka mengamalkan amalan sunnah (thariqah) yang didapatkan dari Guru Mursyidnya, mereka mendapatkan fadlal dan rahmat dari Allah Swt, berupa ketenangan dan kedamaian batin, mudah ingat kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw, mudah melihat dosa dan aib diri sendiri, serta tercapainya kelancaran, dan barakah dalam kehidupan keluarga.
[5]. Kata “MUHSIN” sebagai akar dari kata “ihsaan” yang memiliki arti : orang yang imannya telah mencapai derajat “IHSAN” yang dapat diartikan sebagaimana keterangan dalam sabda Rasulullah Saw: الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ : Ihsan adalah sekiranya engkau beribadah kepada Allah, merasa seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu (HR. Bukhari) .
[6]. Kitab Riyadlus Shalihin bab “Man Sanna Sunnatan”. Hadis ini juga diriwatkan oleh Imam Nasa’i, Ibnu Majah,dan Imam Tirmidzi dari Abu Amr dan Jarir Ibnu Abdullah Ra.
[7] Kitab Dalil al-Falihin Lithuruqqi Riyadl as-Shalihin juz I / 442.
[8]. Kitab Syawahid al-Haq, Syeh Yusuf an-Nabhani pada bab muqaddimah.
[9]. Kitab Sunny yang mu’tabar, antara lain yang ditulis oleh : Abu Thalib al-Makky, Imam Qusyairi, al-Ghazali, Syeh Abdul Qadir al-Jailani, Syeh Ibnu Athaillah as-Sakandari, Syeh Sya’rani dan para ulama masyhur dikalangan kaum sufi (buku Fuyudlat ar-Rabbaniyah/ Permasalah Thariqah (kumpulan keputusan mu’tamar jam’iyah thariqah Indonesia), terbitan “Khalista” Surabaya, dalam item keputusan ketujuh, pada bahasan ke 161 dan 162.
[10]. Dalam menentukan derajat hadis (shahih, hasan, dla’if atau munkar), telah terbukukan dalam kitab Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lainnya. Hingga generasi berikunya, tidak perlu lagi mengadakan takhrij (penelitian) kwalitas hadis, selama ulama terdahulu telah menetapkannya. Berlainan yang dilakukan oleh kaum salafi wahabi yang sering mendla’ifkan danmemungkarkan hadis yang telah dinilai shahih atau hasan oleh ulama dahulu.
[11]. Imam Syafii dalam kitab Diwan-nya yang diterbitkan “Dar al-Jil” Bairut, tahun 1974, menjelaskan :
فَقِيْهًا صُوفِيًا فَكُنْ لَيْسَ وَاحِدًا فَإِنِّـي وَحَـقُّ اللهِ إِيَّاكَ أَنْصَـحُ
فَذَاكَ قَاسَ قَلْبُهُ لَمْ يَذُقْ تُقًى وَهَذَا جَهُوْلٌ كَيْفَ ذُو الجَهْلِ يَصْلُحُ
Jadilah kamu ahli fiqh dan ahli tasawuf. Dan janganlah salah satunya. Sungguh aku dengan kebenaran dari Allah, member nasehat kepadamu. Dia (yang hanya ahli fiqh) saja, hatinya keras serta tidak merasakan taqwa. Dan dia (yang hanya ahli tasawuf), seperti orang bodoh. Dan bagaimana orang bodoh, patut menjadi pembimbing.
Disini perlu diperhatikan, teks syair Imam Syafii tersebut, anehnya tidak terdapat dalam cetakan yang dikeluarkan dalam e-book, buku elektronik : http://www.almeshkat.net/books), atau buku “Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik”, tulisan Syeh Idahram, Penerbit “Pustaka Pesantren”, Jl. Parangtriris KM 4.4 Yogyakarta.
Dalam buku ini, diterangkan juga bahwa mereka sengaja melakukan sesuatu yang menodai ilmiyah. Diantaranya, mereka menghapus teks-teks yang terdapat dalam kitab para ulama klasik yang bertentangan dengan akdidahnya, serta memalsukan/ menyisipkan teks yang tidak ditulis oleh para penulis kitab tersebut. Sampai-sampai teks hadis yang terdapat dalam kitab as-Shahih Bukhari dan Muslim juga dihapus dan dipalsukan.
[12]. Hadis shahih riwayat Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudri, kitab Jami’ as-Shagir-nya Imam jalaluddin Suyuthi pada juz II dalam bab “wawu”.
[13]. HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai, kitab Jami’ as-Shaghir fii Ahaadiis al-Basyir an-Nadziir-nya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, pada juz I dalam bab “alif dan dzal”.
[14]. Kitab Syawahidul Haq fil Istighatsah bi Sayyidil Khalqi wal Basyar Saw-nya Syeh Nabhani Ra, dalam pasal 3 pada ulasan “pendapat para ulama tentang istighatsah kepada Nabi Saw”.
[15]. Hadis ini dapat dipahami sebagai ulasan terhadap firman Allah Swt , Qs. al-Anbiya’ : 107 :
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةَ لِلْعَالَمِيْنَ : Dan Kami (Allah) tidak mengutus Engkau, kecuali sebagai rahmat kepada alam.
[16]. . Kitab Jami’ as-Shahigir juz I bab “alif”. Dan Imam Suyuthi menerangkan hadis ini hasan.
[17]. HR. Ahmad (Musnad, nh : 3233)
[18]. Kitab as-Syifa’-nya Syeh Abul Fadlal Iyadl al-Yahshubi Ra, dalam juz I bab I pada pasal 1.
[19]. Kitab al-Ghunyah dalam juz II pada bab “maa yajibu ‘ala al-mubtadi” pasal kesatu. Hadis yang sepadan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah (Shahih, nh : 4661, dalam kitab “al-birr wa as-shlah” pada bab “fadl iyadah al-maridl”).
[20]. Kitab Thabaqaat al-Kubra Syeh Abdul Wahhab as-Sya’rani Ra juz II, kisah Syeh Ibnu Makhala.
[21]. Kitab al-Anwarul Qudsiyah fii Ma’rifati Qawaa’id as-Sufiyah dalam bab ‘muqaddimah”. Yang mana kitab ini ditulis disebabkan oleh banyaknya penyimpangan yang terjadi dalam lingkungan kaum sufi dan para guru tarekat. Demikian pula, ketika al-Ghauts fii Zamanihi Imam al-Qusyairi Ra (w. 465 H) menulis kitab Risyalah al-Qusyairiyah, dan al-Ghauts fii Zamanihi Ra Imam al-Ghazali Ra menulis kitab Ihya’ Ulumuddin. Pada masa Beliau Ra berdua, terjadinya penyimpangan dari para pembimbing tarekat sufi, sehingga kebanyakan kaum fuqaha’ menganggap tasawuf sebagai amalan yang kurang dapat dipertanggung jawabkan dalam Islam.
Shalawat Wahidiyah dan Perjuangan Wahidiyah, oleh Mbah KH. Abdul Madjid Ma'roef Muallif Shalawat Wahidiyah QS wa Ra dimaksudkan mengembalikan inti tasawuf sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah Saw, yang tidak memisahkan antara aqidah (sebagai jiwa), fiqih (sebagai pelaksanaan hukum lahiriyah) dan moral (sebagai keluhuran budi).
[22]. Ibid. Dalam bab “sanadul qaum”, Syeh Sya’rani menjelaskan bahwa para guru mursyid waktu itu adalah orang yang keshalihan, kewara’an dan kezuhudannya seperti yang dicontohkan oleh Rsulullah Saw. Beliau Ra memiliki amalan yang sanadnya (sambungan jiwa) dengan Rasulullah Saw hanya terhalang oleh 1 atau 2 orang GURU MURSYID, yang akhirnya Beliau Ra mengambil langsung dari Rasulullah Saw setelah Guru Mursyid-nya wafat. Beliau Ra mencari hidayah Allah Swt, syafaat Rasulullah Saw melalui Syeh Ali al-Khawash. Dan Syeh Ali al-Khawash melalui Syeh Ibrahim al-Matbuli Syeh Ibrahim al-Matbuli dari Rasulullah Saw secara langsung. Kemudian setelah wafatnya Syeh Ibrahim al-Matbuli, Syeh Ali al-Khawash mengambil langsung dari Rasulullah Saw.
[23]. Diantara tanda benar dan sahnya suatu tarekat, antara dapat membawa pengamalnya dekat dengan sedekat mungkin kepada Rasulullah Saw secara ruhani maupun mushafahah dan musyfahah (dapat berdialog). Jika tidak, maka tarekat tersebut dinilan batal. Lihat kitab al-Anwarul Qudsiyah al-Ghauts fii Zamanihi Ra Syeh Abdul Wahhab as-Sya’rani, dalam bab “sanadul qaum”
[24]. Kitab Jami’ as-Shagir –nya Imam Suyuthi, juz I bab alif. Atau kitab Kasyful Khifa’ juz I, bab alif. tasawuf diartikan; jalan untuk menuju sadar (makrifat) kepada Allah Swt. Dengan makna seperti ini, setiap jalan kebaikan - lebih-lebih bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw - dapat dijadikan thariqah. Dengan demikian, Shalawat Wahidiyah dapat juga dikatakan sebagai “THARIQAH”/ jalan (cara, sistem, metode atau kurikulum) untuk menuju hadratullah Yang Maha Esa. Hanya saja yang berkaitan dengan sanad dan silsilah (tthariqah pada umumnya), bukan sebagaimana makna sanad/ silsilah thariqah/ tarekat yang terdefinisikan dalam tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Tijaniyah dan sebagainya yang memerlukan bai’at langsung (antara murid dan guru) serta adanya rantaian sanad atau silsilah secara lahiriyah. Sedangkan pemaknaan shalawat sebagai thariqah, sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ulama sufi yang menjadikannya sebagai amalan sunnah yang utama dan dapat digunakan untuk mendekat kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw.
Makna kata THARIQAH - sebegaimana penjelasan dari Syeh Abdullah bin Alwi al-Haddad Ra dalam kitab Da’wah at-Tammah -, terbagi kedalam dua bagian; umum dan khusus.
1. Thariqah umum, adalah segala amal shalih yang diizinkan oleh syariah Islam serta diamalkan secara sungguh-sungguh dan istiqamah (kontinyu) dengan menghayati makna yang terkandung didalamnya secara seksama. Ta’rif seperti ini pada umumnya diperuntukkan bagi ummat awam agar memahami makna yang terkandung didalam setiap ritual rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji).
Para ulama salafus shalih (ulama terdahulu yang shalih) mengatakan : tahriqah (amalan yang baik) adalah jalan kebaikan yang diridlai dan memiliki dasar dari sunnah Rasullah Saw baik secara tersurat atau tersirat.
وَهِيَ طَرِيْقَّةٌ مَرْضِيَةٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حُسْنُهَا بِالنَصِّ بَلْ بِالإِسْتِنْبَاطِ
Thariqah (jalan) yang diridlai Allah, walaupun kebaikannya tidak terdapat dalam nash (secara langsung/ tersurat), akan tetapi melalui istinbath (makna tersirat yang digali dari dari nash tersurat.[2]
2. Thariqah khusus adalah jalan kebaikan yang berkaitan dengan akhlak hati (sabar, ridla, tawakkal, mahabbah, taqwa, khusyu’, khudlu’ makrifat dan sifat keutamaan lainnya) yang disusun urutan cara pengamalannya oleh para ulama yang ahli. Pada umunya tarekat khusus ini memiliki persyaratan yang berat, dan hanya mampu dilakukan oleh para ulama kelas berat.
Pada umumnya pembedaan kedua difinisi tersebut, terletak dalam urutan tatacara pengamalan akhlak saja (taubat, syukur, ridla, qana’ah dan seterusnya). Atau pensimpelan beberapa jenis akhlak yang sepadan menjadi satu akhlak (ridla dan qana’ah, yang dijadikan satu dalam ridla atau dalam qana’ah). Artinya, kemampuan perjuangan orang awam dalam mencapai akhlak hati, tidak setinggi kemampuan para arifin. Jika para ulama Arif billah dapat merealisasikan anjuran akhlak secara keseluruhan dari macam-macam jenis akhlak yang dituntunkan oleh sunnah rasul. Sedangkan orang awam hanya mampu mencapai beberapa jenis akhlak saja, dan itupun secara global. Meski demikian, hasil antara kedua jenis tarekat tersebut adalah sama. Mengapa demikian ?. Hasil dari tarekat tergantung pada kebijakan metode/ kurikulum dan doa Mursyid Kamil Mukammil Ra, serta fadlal dari Allah Swt.
Secara global, pengertian tarekat, adalah jalan untuk meraih akhlakul karimah, yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Kemudian, para ulama sufi menyusun rinciannya. Rincian dan ulasan tersebut dapat dianggap benar, bila memiliki dasar yang kuat dari al-Qur’an dan hadis, dapat mengantarkan pengamalnya bertemu Rasulullah Saw, serta kedalam kehidupan yang bersyariat dan berhakikat.
a. Qs. al-Ankabut : 69 : وَالذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَ اللهِ لَمَعَ المُحْسِنَينَ.:
Dan orang-orang yang senantiasa bermujahadah (berjuang bersungguh-sungguh) dijalan-Ku, sungguh niscaya Kami akan menunjukkan (lagi) kepada jalan-Ku. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan (dapat mencapai derajat iman yang ihsan).
Para ulama kaum sufi, mengartikan kata “subul” dalam ayat 69 surat al-Ankabuut, sepadan dengan makna tarekat untuk menuju iman dan ihsan. Sedangkan makna mujahadah, adalah memerangi akhlak hati yang buruk (nafsu) secara sungguh-sungguh, dan menggantinya dengan akhlak yang baik.[3] Sebagaimana keterangan yang diberikan oleh Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya (tafsir al-Qurthubi) :
وَمِنْهُ مُجَاهَدَةُ النُفُوسِ وَهُوَ جِهَادُ الأكْبَر :
Dan diantara berjuang dengan sungguh-sungguh adalah memerangi nafsu. Dan itulah perang terbesar.
b. Firman Allah Swt Qs. al-Jin : 16 :
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَرِيْقَةِ لأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا :
Dan jika sekiranya mereka beristiqamah (terus menerus) diatas thariqah, niscaya Kami akan memberikan minum air (rizki yang banyak) yang segar. [4]
Ayat 16 surat al-Jin ini, menjelaskan bahwa beristiqamah dalam melaksanakan suatu amalan yang baik, akan menyebabkan turunnya fadlal dari Allah Swt yang digambarkan dengan air yang segar.
Diantara kesimpulan yang dapat diambil dari :
1. Tanda-tanda subul/ thariqah yang memperoleh hidayah Allah Swt adalah jika amalan tersebut dapat mengantarkan pengamalnya kepada derajat ihsan [5] (sadar dan makrifat kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw). Dengan kata lain, membawa mukmin kepada praktek trhadap sunnah rasul secara syariat dan hakikat.
2. Dengan beristiqamah dalam bermujahadah, hati mukmin akan terpancari oleh hidayah-Nya (nur ilahiyah), hingga dapat menghayati makna yang terkandung didalam ritual ibadah (yang diwajibkan atau disunnahkan) baik ucapan atau perbuatan.
1. Sunnah ulama.
Banyak manusia dalam memandang tuntunan agama terbatas ritual lahiriyah/ syari’ah saja. Maka, agar Islam tetap berjalan diatas landasan Islam yang murni (syariat dan hakikat), para ulama yang ahli diperintahkan untuk menggali dan mancari cara (metode/ sunnah/ kurikulum/ thariqah) agar sunnah rasul dan sunnah sahabat, mudah untuk dipahami dan diamalkan oleh orang mukmin. HR. Muslim, Rasulullah Saw bersabda : [6]
مَنْ سَنَّ فِي الاِسْلاَمِ سُنَّةَ حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الاِسْلاَمِ سُنَّةَ سَيِّئَةً كَانَ َلَه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُوزَارِهِمْ شَيْئٌ
Siapa saja yang membuat sunnah dalam Islam, dengan sunnah yang baik, maka baginya pahala dan pahala dari orang yang mengamalkan sunnah tersebut dengan tanpa mengurangi pahala dari pengamalnya sedikitpun. Siapa saja yang membuat sunnah dalam Islam, dengan sunnah buruk, maka baginya dosa dan dosa dari orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya dengan tanpa mengurangi dosa dari pengamalnya sedikitpun.
Dalam kitab Dalil al-Falihin Lithuruqqi Riyadl as-Shalihin juz I/ 442 diterangkan; para ulama terdahulu (salafus shalih) berpendapat : thariqah (system/ metode/ amalan) adalah jalan kebaikan yang memiliki dasar (baik secara tersurat atau tersirat) dari sunnah Rasullah Saw :
وَهِيَ طَرِيْقَّةٌ مَرْضِيَةٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حُسْنُهَا بِالنَصِّ بَلْ بِالإِسْتِنْبَاطِ
Sunnah, adalah thariqah (jalan) yang diridlai Allah, walaupun kebaikannya tidak terdapat dalam nash (tersurat), akan tetapi melalui istinbath (makna tersirat).[7]
Bahkan dalam hadis riwayat Imam Thabrani, dijelaskan didalam syariah Islam terdapat 360 macam thariqah/ sistem. Rasulullah Saw bersabda : [8]
إِنَّ شَرِيْعَتِي جَاءتْ عَلَى ثَلاَثِمِائَةٍ وَسِتِّيْنَ طَرِيْقَةً. مَا سَلَكَ أَحَدٌ مِنْهَا إِلاَّ نَجَا
Sesungguhnya syariat-ku datang dengan 360 thariqah (jalan, cara, sistem). Tidak seorang-pun mengambil dari salah satunya, kecuali mendapat keselamatan.
Dan dalam catatan jam’iyah thariqah an-nahdliyah (bernaung dibawah Nahdlatul Ulama),
jumlah thariqah yang masyhur (mu’tabarah) sebanyak 44 thariqah. Sedangkan thariqah selain yang tercatat dalam jam’iyah NU tersebut hukumnya SAH dan BAIK, selama berpedoman kepada aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dan merujuk kepada kitab-kitab sunny yang mu’tabar.[9]
Sebagaimana lazimnya dalam kehidupan setiap agama, setelah ditinggal oleh pembawanya, terjadi penyimpangan oleh sebagian pengikutnya. Namun, dalam Islam, Allah Swt menolong ummatnya, dengan memberikan petunjuk kepada para ulama yang dikehendaki-Nya. Ulama tersebut dengan sekuat tenaga berupaya membersihkan Islam dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Diantara sunnah para ulama :
a. Pembersihan dari pemalsuan hadis.
Dicatat dalam sejarah, pemalsuan hadis terjadi setelah khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Ra). Hasil dari upaya para ulama tersebut telah dibukukan dalam berbagai macam kitab hadis yang mu’tabar.[10]
b. Pembersihan dari usaha pendangkalan makna ayat-ayat al-Qur’an dan hadis.
Sebagian mukmin dalam memahami al-Qur’an dan al-Hadis serta syariat Islam, hanya secara harfiah (verbalisme), tanpa mau mengambil makna dibalik teks (tafsir isyari).
c. Pembersihan dari penyimpangan makna ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan iman kepada Allah Swt, dan yang telah disepakati oleh para sahabat.
Para ulama kaum sufi, khususnya al-Ghauts Ra lebih memfokuskan upaya mereka dalam bidang pelurusan iman, penyadaran keberadaan dan keagungan Rasulullah Saw, pembersihan jiwa dari penyakit hati yang buruk (syirik, ujub, riya’, takabbur dan lain sebagainya) dan menghiasi hati dengan sifat-sifat yang terpuji (ihsan, sabar, syukur, dan sifat terpuji lainnya).
d. Pembersihan dari paham yang mengutamakan tuntunan lahiriyah (syariat) saja tanpa memperhatikan tuntunan batiniyah (hakikat), atau sebaliknya. keduanya merupakan ajaran Islam yang tidak boleh dipilih salah satunya. Setiap mukmin wajib memadukan keduanya. [11]
e. Menta’lif redaksi doa/ dzikir atau shalawat ghairu maktsurah.
Rasulullah Saw telah memberikan tuntunan yang mudah serta jelas. Yakni mengamalkan shalawat nabi dan memahami maknanya. Para ulama dari kelompok ketiga tersebut, dalam menyusun doa, senantiasa disertai dengan bershalawat, atau dalam menyusun sebuah metode, system, kurikulum atau thariqah untuk mencapai iman dan Islam yang ihsan.
Memahami keberadaan dan keagungan Rasulullah Saw, merupakan sarana yang paling tepat dan cepat untuk memahami keagungan Allah Swt, dan merupakan realisasi dari keimanan yang telah diterangkan dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadis. Tanpa melalui Rasulullah Saw, sudah tentu salik akan dibimbing oleh setan.
f. Menta’lif redaksi doa yang pada umumnya didalamnya mengandung makna ajaran tentang pentingnya bertawassul kepada Nabi Saw.
Al-Qur’an dan hadis telah memberikan tuntunan dalam mencapai dan menyempurnakan iman dan ihsan, yakni bertawassul kepada Rasulullah Saw :
1. Firman Allah Swt, Qs. al-Maidah : 35 :
يَاأيُّهَا الذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah. Dan carilah wasilah (media/ thariqah) untuk menuju kepada-Nya. Dan sunguh-sungguhlah kamu semua didalam jalan (menuju kepada)-Nya agar kamu semua memperoleh keberuntungan.
2. HR. Imam Ahmad Ibn Hanbal, Rasulullah Saw bersabda : [12]
الوَسِيْلَةُ دَرَجَةٌ عِنْدَ اللهِ لَيْسَ فَوقَهَا دَرَجَةٌ فَسَلُوا اللهَ أَن يُؤْتِيَنِي الوَسِيْلَةَ
Wasilah adalah derajat disisi Allah, yang tidak ada derajat lagi. Maka mohonkan aku kepada Allah, agar Ia memberiku derajat wasilah.
Asal makna wasilah adalah perantara. Para ulama kaum sufi mengartikan kata wasilah sepadan arti dengan makna kata thariqah dalam ayat 16 surat al-Jin. Penafsiran kata wasilah dalam ayat ini secara tepat adalah sebagaimana dijelaskan oleh hadis riwayat dari Ibnu Amr, Rasulullah Saw bersabda :[13]
إِذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُوْلُوا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ فَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ بِهَا عَشْرًا. ثُمَّ سَلُّوا اللهَ لِي الوَسِيْلَةَ. فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَتَنْبَغِي إِلاَّ لِعِبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ. وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ. فَمَنْ سَأَلَهَا لِيَ الوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَفَاعَةُ.
Ketika kalian mendengar muaddzin, ucapkanlah sebagaimana ia mengucapkannya. Kemudian bershalawatlah kalian kepadaku. Sesungguhnya, barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya dengan shalawatnya tersebut sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kamu semua untukku “WASILAH”. Sesungguhnya wasilah adalah tempat yang mulya dalam surga, yang mana (tempat itu) tidak patut kecuali diperuntukkan bagi satu hamba dari beberapa hamba-Nya. Barang siapa memohonkan untukku wasilah, maka ia halal mendapat syafaat (dariku).
Syekh as-Sindi, dalam memberikan penjelasan makna ‘wasilah” dengan :
لاَيُخْرَجُ رِزْْقٌ وَمَنْزِلَةٌ إِلاَّ عَلَى يَدَ يْهِ وَبِواَسِطَتِهِ :
Tidak keluar (dari Allah) rizki dan kedudukan, kecuali ditangan Rasulullah dan dengan perantaraannya. (Sunan Nasa’i bi Hasyiyah as-Sindi juz II, bab shalawat)
Hadis riwayat Imam Muslim (Shahih Muslim, bab “adzan”), Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ الوَسِيْلَةَ أَعْلَى مَنْزِلَةٍ فِي الجَنَّةِ وَلاَ يَنَالُهَا إِلاَّ رَحُلٌ وَأَنَا أَرْجُو مِنْ ذَالِكَ الرَّجُلِ
Sesungguhnya wasilah itu setinggi-tinggi tempat dalam surga, dan tidak dapat memperolehnya kecuali seorang lelaki. Dan Aku berharap sebagai lelaki tersebut.
Sebagaimana ketentuan Allah Swt (sunnatullah), semua pertolongan yang Dia berikan kepada makhluk-Nya, disalurkan melalui makhluk lainnya. Misalnya, air dapat menghilangkan haus, nasi (snack) dapat mengilangkan lapar, racun dapat mematikan. Kekuatan menghilangkan haus dan lapar, atau mematikan tersebut pada hakikinya adalah kekuatan Allah Swt yang dipancarkan kepada benda tersebut. Mukmin mendekati air atau nasi, serta menghindari racun, hakikinya yang didekati adalah kekuatan Allah Swt. Demikian pula, mukmin mendekat waliyullah Ra atau Rasulullah Saw, hakikinya untuk mencari karamah serta mukjizat Allah Swt semata yang dipancarkan melalui hamba-Nya tersebut. Dalam hail ini, al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Yusuf bin Ismail an-Nabhani Ra (w. 1933 M), menjelaskan : [14]
وَأَمَّا النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ وَاسِطَةً بَينَهُ وَبَيْنَ اللهُ. فَهُوَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُسْتَغَاثُ بِهِ حَقِيْقَةً.
Nabi Muhammad Saw, merupakan perantara antara hamba dan Allah. Dan secara hakiki Dia
(Allah) Swt adalah merupakan tempat meminta pertolongan.
HR. Imam Nasai (kitab Amalul Yaum wal Lailah, nomer hadis : 663 – 665, dan yang di-shahih-kan oleh al-Bahihaqi) dari Usman bin Hunaif. Dia berkata : Orang buta menghadap kepada Rasulullah Saw dan meminta untuk didoakan agar Allah Swt memberikan kesembuhan matanya, hingga dapat melihat kembali. Rasulullah Saw bersabda : Ucapkanlah :
أَللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ بِكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَحْمَةِ. يَامُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي قَضَاءِ حَاجَتِي لِيْ, اللهُمَّ شَفِّعْهُ فِي.
Ya Allah, sungguh aku meminta kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammad Saw, Nabi pembawa rahmat.[15] Wahai Nabi Muhammad, sungguh aku menghadap Allah melalui Paduka, agar hajatku ini terkabulkan. Ya Allah, berikanlah syafaat kepadanya dalam hal ini.
Memahami pentingnya memiliki guru yang ahli dalam bidang iman, Islam dan ihsan, yakni al-Ghauts Ra (wakil Rasulullah Saw pada setiap zaman) merupakan asas dalam sunnah rasul. Sebagaimana keterangan dalam hadis riwayat Thabrani dari Abdullah Ibn Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda : [16]
إِنَّ مِنَ النَاسِ مَفَاتِيْحٌ لِذِكْرِ اللهِ إِذَا رَأَوْا ذُكِرَ الله ُ :
Sesungguhnya diantara manusia, terdapat seseorang yang menjadi pembuka kepada dzikrullah. Jika mereka (salik) melihatnya, maka akan (mudah) ingat kepada Allah.
Hadis yang sepadan arti, Rasulullah Saw bersabd : [17]
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ ؟. قَالُوا : بَلَى يَارَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : الَّذِيْنَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللهُ
Bersediakah kamu, saya beritahu tentang sebaik-baik kamu ?. Mereka menjawab : Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda : Mereka adalah orang-orang yang ketika dilihat, maka Allah dapat diingat.
Imam Abul Aliyah dan Imam Hasan Bashri, berkata : makna shirathul mustaqim, dalam surat al-Fatihah, adalah pribadi Rasulullah Saw :
الصِرَاطُ المُسْتَقِيْمُ هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخِيَارُ أَهْلِ بِيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ.
Jalan yang lurus adalah pribadi Rasulullah Saw dan orang pilihan dari keluarganya dan sahabatnya.[18]
Wasilah merupakan kedudukan tertinggi disisi Allah Swt yang diperoleh oleh satu orang dari beberapa hamba-Nya (Rasulullah Saw). Dan adanya perintah agar mukmin mencari seseorang yang telah mencapai maqam wasilah, bertujuan jika mereka melaksanakan tawajjuh kepada Allah Swt melalui orang (Rasulullah Saw) tersebut. Dan barulah mukmin dapat meraih derajat ihsan. Berwasilah kepada Rasulullah Saw atau al-Ghauts Ra dapat dinamakan pengamalan thariqah. Syeh Abdul Qadir al-Jilani Ra menjelaskan; bahwa Syeh Mursyid yang kamil itulah yang dinamakan thariqah untuk menuju makrifat kepada Allah Swt.
فَالمَشَايِخُ هُمْ طَرِيْقٌ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالأَدِلاَّءُ عَلَيْهِ وَالبَابُ الذِي يَدْخُلُ مِنْهُ إِلَيْهِ.
Guru Mursyid adalah jalan menuju kepada Allah Azza wa Jalla, dan sebagai bukti keberadaan-Nya, dan sebagai pintu masuk untuk menuju kepada-Nya. [19]
Demikian pula, Syeh Daud Ibnu Makhala Ra dapat menjelaskan :
قَلْبُ العَارِفِ حَضْرَةُ اللهِ, وَحَوَاسُهُ اَبْوَابُهَا. فَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيْهِ بِالقُرْبِ المُلاَ ئِمِ فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ الحَضْرةِ
Hati seorang yang Arif Billah itu pintu kehadiran Allah Swt, dan seluruh indranya merupakanpintu hadrah-Nya. Barang siapa yang mendekat kepada Beliau dengan pendekatan yang semestinya, maka akan terbuka baginya pintu hadlrah Allah Swt. [20]
Demikian pentingnya peranan Guru Ruhani Yang Kamil Mukammil dalam jiwa manusia. Manusia hanya memiliki dua pilihan antara mencari Guru Kami Mukammil untuk membimbing jiwanya atau membiarkan setan dan nafsu mencengkeram jiwanya dan kemudian membelokkan dari pemahaman tauhid yang benar. Dan agar dapat mencengkeram jiwa manusia, setan/ nafsu senantiasa membisikkan tidak perlunya mencari Guru yang kamil, serta mencukupkan dengan pemahaman diri sendiri. Sebagai pengamal dan pejuang Wahidiyah, perlu kiranya benar-benar melawan bisikan hati yang muncul dari setan/ nafsu. Allah Swt berfirman Qs. an-Nisa’ : 38, dan al-Baqarah : 208:
وَلاَ تتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ :
Janganlah kalian mengikuti panduan setan. Sungguh ia merupakan musuh yang nyata bagi kalian.
Keempat ayat tersebut diatas, mengisyaratkan adanya guru ruhani yang cara membimbing manusia menuju Tuhan bukan berdasar dari sesuatu yang digariskan oleh Rasulullah Saw, akan tetapi melalui garis-garis yang dibisikan oleh iblis/ setan/ nafsu kedalam jiwanya. Guru ruhani yang jiwanya dikuasai oleh nafsu/ setan, al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Abdul Wahhab as-Sya’rani Ra, dalam kitabnya, [21] menjelaskan :
وَقَدْ أَدْرَكْنَا جُمْلَةً مِنَ أَشْيَاخِ الطَرِيْقِ أَوَّلَ هَذَا القُرُنِ, كَانُوا عَلَى قَدَمٍ عَظِيْمٍ فِي العِبَادَةِ وَالنُسُكِ وَالوَرَعِ وَالخَشْيَةِ وَكَفِّ الجَوَارِحِ الظَاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ عَنِ الأَثَامِ حَتَّى لاَيَجِدُ أَحَدُهُمْ قَطُّ يَعْمَلُ شَيْئًا يَكْتُبُهُ كَاتِبُ الشِمَالِ. وَكَانَ لِلطَرِيْقِ حُرْمَةٌ وَهَيْبَةٌ وَكَانَ الأُمَرَاءُ وَالمُلُوكُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِأَهْلِهَا لَمَّا يُشْهِدُونَهُ مِنْ صِفَاتِهِمْ الحَسَنَةِ. فَلَمَّا ذَهَبُوا زَالَتْ حُرْمَةُ الطَّرِيْقِ وَأَهْلِهَا. وَصَار النَاسُ يَسْخَرُونَ بِأَحَدَهِمْ وَيَقُولُونَ لِبَعْضِهِمْ : مَادَرَيْتُمْ مَاجَرَى, فُلاَنُ الأَخَرُ عَمِلَ شَيْخًا ؟. كَأَنَّهُمْ لاَيُسَلِّمُونَ لَهُ مَا يَدْعِيْهِ لَمَّا هُوَ عَلَيْهِ مِنْ مَحَبَّةِ الدُنْيَا وَالتَّلَذُّذِ بِمُطَاعِمِهَا وَمَلاَبِسِهَا وَمَنَاكِحِهَا وَالسَعْيِ عَلَى تَحْصِيْلِهَا. حَتَّى إِنِّي قُلْتُ لِبَعْضِ التُجَّارِ لِمَ لاَ تَجْتَمِعُ بِالشَيْخِ الفُلاَنِيْ. فَقَالَ : إِنْ كَانَ شَيْخًا فَأَنَا الأَخَرُ شَيْخٌ, فَإِنَّهُ يُحِبُّ الدُّنْيَا كَمَا أُحِبُّهَا وَيَسْعَى فِيْ تَحْصِيْلِهَا كَمَا أَسْعَى, بَلْ هُوَ أَشَدُّ مِنِّي سَعْيًا عَلَى الدُنْيَا.
Kami mendapati beberapa Guru Mursyid [22] pada awal abad ini. Mereka diatas pondasi yang agung dalam ibadah, amal baik, wara’ (sangat hati-hati dalam masalah halal haram), khasy’yah (benar-benar takut kepada Allah), menjaga anggauta tubuh baik lahir atau batin dari dosa sama sekali. Hingga malikat pencatat amal jelek (pencatat bagian kiri) tidak mendapatkan catatan jelek. Didalam thariqah terdapat kehormatan dan kewibawaan. Dan ketika mereka melihat kebaikan serta kemulyaan akhlak para guru sufi, para pejabat dan para raja memohon berkah kepada para ahli thariqah. [23]
Namun, setelah mereka tidak tiada, hilanglah kehormatan tarekat dan pengamalnya. Dan manusia merendahkan para pengamal tarekat. Diantara masarakat ada yang berakat kepada kawannya. Tahukah kamu apa yang terjadi, didalam lingkungan orang-orang yang menjadi guru mursyid ?. Mereka sudah tidak mau memahami lagi terhadap apa yang dida’wakan masarakat kepada mereka. Karena mereka (para guru mursyid) sudah hanyut dalam cinta dunia (dan kehormatan) dan syahwat dunia, serta kelezatan makanan, pakaian dan pernikahan dunia.Mereka lari cepat untuk memperolehnya.
Hingga aku – demikian keterangan Syeh Sya’rani – bertanya kepada salah satu pedagang: “Mengapa saudara tidak berguru kepada Syeh yang bernama Fulan ?. Jawab pedagang : Jika ia guru mursyid, akupun guru mursyid. Dia mencintai dunia seperti aku mencintainya. Dia lari untuk mengejarnya, sebagaimana aku juga lari untuk mengejarnya, bahkan dia lebih kencang larinya.
Rasulullah Saw juga memberi peringatan kepada mukmin, agar tidak berguru atau mengikuti pemimpin ruhani yang menyesatkan. Guru semacam ini bukan membawa kedalam pencerahan jiwa, tapi akan membawa dalam kebutaan hati serta bodoh tentang makna sunnah dan bid’ah serta bodoh tentang penyakit hati yang melekat dalam jiwa setiap manusia :[24]
إِنَّمَاأَخْوَفُ مَاأَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الآَئِمَّةُ المُضِلِّوْنَ
Sesungguh yang paling Aku takutkan kepada ummat-Ku, adalah pemimpinan yang menyesatkan.
Demi keselamatkan aqidah ummat masarakat, Perjuangan Wahidiyah memberikan amalan berupa shalawat Wahidiyah, yang didalamnya terdapat doa permohonan kepada Allah Swt, agar Dia memperkenankan Rasulullah Saw menampakkan keagungannya, dan juga kepada Beliau Ghauts Hadzaz Zaman Ra, agar siapapun yang dengan tekun dalam mengamalkannya, akan mendapat hidayah-Nya Allah dapat memahami kebaradaan pribadi Rasulullah Saw dan Ghauts Hadzaz Zaman Ra secara musyahadah.
KETERANGAN :
[1]. Kutipan dari buku Bahan Upgrading Dai Wahidiyah (cetakan YPW Pusat).
[2] Kitab Dalil al-Falihin Lithuruqqi Riyadl as-Shalihin-nya Ibnu Allan al-Azizi, juz I/ 442.
[3]. Istilah yang masyhur dalam memerangi nafsu : takhalli (membersihkan hati dari sifat tercela, tahalli (mengisi hati dengan sifat terpuji) dan tajalli (Allah Swt membuka hati mukmin, hingga dapat melihat kebesaran-Nya_.
[4]. Terlepas setuju atau tidak, ayat diatas dijadikan oleh kaum sufi sebagai pendorong dalam mengamalkan amalan sunnah (amal shalih/ THARIQAH) secara istiqamah. Dan alhamdulillah setelah mereka mengamalkan amalan sunnah (thariqah) yang didapatkan dari Guru Mursyidnya, mereka mendapatkan fadlal dan rahmat dari Allah Swt, berupa ketenangan dan kedamaian batin, mudah ingat kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw, mudah melihat dosa dan aib diri sendiri, serta tercapainya kelancaran, dan barakah dalam kehidupan keluarga.
[5]. Kata “MUHSIN” sebagai akar dari kata “ihsaan” yang memiliki arti : orang yang imannya telah mencapai derajat “IHSAN” yang dapat diartikan sebagaimana keterangan dalam sabda Rasulullah Saw: الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ : Ihsan adalah sekiranya engkau beribadah kepada Allah, merasa seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu (HR. Bukhari) .
[6]. Kitab Riyadlus Shalihin bab “Man Sanna Sunnatan”. Hadis ini juga diriwatkan oleh Imam Nasa’i, Ibnu Majah,dan Imam Tirmidzi dari Abu Amr dan Jarir Ibnu Abdullah Ra.
[7] Kitab Dalil al-Falihin Lithuruqqi Riyadl as-Shalihin juz I / 442.
[8]. Kitab Syawahid al-Haq, Syeh Yusuf an-Nabhani pada bab muqaddimah.
[9]. Kitab Sunny yang mu’tabar, antara lain yang ditulis oleh : Abu Thalib al-Makky, Imam Qusyairi, al-Ghazali, Syeh Abdul Qadir al-Jailani, Syeh Ibnu Athaillah as-Sakandari, Syeh Sya’rani dan para ulama masyhur dikalangan kaum sufi (buku Fuyudlat ar-Rabbaniyah/ Permasalah Thariqah (kumpulan keputusan mu’tamar jam’iyah thariqah Indonesia), terbitan “Khalista” Surabaya, dalam item keputusan ketujuh, pada bahasan ke 161 dan 162.
[10]. Dalam menentukan derajat hadis (shahih, hasan, dla’if atau munkar), telah terbukukan dalam kitab Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lainnya. Hingga generasi berikunya, tidak perlu lagi mengadakan takhrij (penelitian) kwalitas hadis, selama ulama terdahulu telah menetapkannya. Berlainan yang dilakukan oleh kaum salafi wahabi yang sering mendla’ifkan danmemungkarkan hadis yang telah dinilai shahih atau hasan oleh ulama da

Tuesday, June 17, 2014

Kepedulian Luar Biasa






Suatu hari seorang laki-laki bertamu kerumah Rasulallah SAW "saya lapar" kata laki-laki itu
pada zaman Nabi SAW masyarakat dididik untuk tidak meminta minta kepada sesamanya. meminta bagi sahabat saat itu sama halnya dengan mencabik cabik muka sendiri karena itu kalau ada orang meminta sesuatu pasti karena terpaksa termasuk laki-laki itu

Nabi SAW kemudia bertanya kepada istrinya, makanan apa yang bisa diberikan kepada tamunya "kita tidak memiliki apa apa" jawab istri beliau

Nabi SAW lalu masuk masjid. rumah beliau memang menyatu dengan masjid Nabawi. Nabi SAW kemudian bersabda "siapa di anatara kalian yang malam ini bersedia memberi makan kepada tamu kita ini? semoga Allah memberi rahmat

saya yaa Rasulallah " sahut seorang sahabat anshar

lelaki itu lalu diajak pulang kerumahnya kepada istrinya orang anshar itu berkata "ini tamu Rasulallah suguhkan padanya makanan yang kita punya

"kita tidak punya makanan apa-apa kecuali sedikit yang hanya cukup untuk anak-anak kita " jawab istrinya

suami istri itu lalu saling pandang mereka kecewa karena tak bisa memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan

"marilah kita sekeluarga malam ini menahan lapar. jika anak minta makan hiburlah dan ajaklah mereka tidur "kata suaminya". suaminya menuruh memadamkan lampu agar anak-anaknya bisa cepat tidur juga agar tamunya tidak mengetahui apakah tuan rumah ikut makan atau tidak

esok harinya Rasulallah SAW memberitahukan kepada para sahabat bahwa telah turun wahyu karena Allah sangat menghargai perilaku suami istri yang sangat memperhatikan kepentingan orang lain

dan merekan lebih mengutamakan orang lain dari pada diri mereka sendaiari. padahal mereka membutuhkan barang yang mereka berikan itu. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS Al-Hasyr:59)

mungkin ada orang berkata apa susahnya memberi makanan untuk umembuat satu orang kenyang. bahkan mungkin banyak diantara kita yang mentraktir rekan di rumah makan mahal atau menolong banyak orang makan di restoran

tetapi persoallannya bukan terletak pada murah dan mahalnya makanan atau sedikit dan banyaknya orang yang ditolong melainkan tingkat kepedulian yang tinggi yang dilakukan seseorang kepada orang lain 

bagi sahabat anshar makanan itu sedemikian berharga karena diperuntukan anaknya, dan merupakan satu satunya akanan yang dia miliki saat itu. dia sangat memerlukannya, tetapi demi menolong orang lain ia, kalahkan kepentinganya, bahkan juga kepentingan anaknya.

nilai amal dihadapan Allah bukan terletak pada kuantitasnya, melainkan pada kualitasnya. dan orang anshar yang dihargai Allah itu memberi contoh tentang amal yang berkualitas. yang menerima pertolongan memperoleh manfaat besar, yaitu terhindar dari kelaparan. sedangkan yang memberi pertolongan telah memberikan miliky yang berhaga demi orang lain.

Rasulallah SAW selama sebelas tahun membangun masyarakat di madinah memang tidak menghasilkan masyarakat yang kaya materi. masih banyak orang miskin. tetapi Rasulallah SAW berhasil membangun dengan kukuh masyarakat yang mempunyai kepudilian sangat tinggi kepad sesama. masyarakat, beliau ibaratkan bagaikan bangunan yang kukuh yang saling menguatkan satu bagian dengan bagian lainyya. masyarakat yang damai karena jiwa mereka kaya.

keadaan inilah yang rasanya semakin jauh dari masyarakat kita. Rasulallah SAW mengajarkan agar kita mencari kebahagian dengan cara membahagiakan orang lain. tetapi kita mencari kebahagian dengan cara mengornkan orang lain. nabi SAW yang mulia mengajarkan agar kita mencari kesenangan dengan jalan menyenangkan orang lain, tetapi kita sering kali mencari kesenangan dengan menimbulkan kesulitan pada orang lain


Para wali adalah contoh yang baik

dalam kisahnya kita mengetahui para kekasih Allah ini dalam penyebaran Agama Islam kususnya di tanah jawa yang terkenal dengan sebutan Sembilan Wali, dalam penyiaran agama beliau beliau ini mengunakan sistem pendekatan kepada masyarakat yang baik dan bisa diterima oleh semua golongan, sehingga dalam penyiaran tersebut mampu menarik keinginan umat untuk beragama

hal itulah yang saat ini mungkin belum banyak ada tertanam dalam setiap orang untuk mengajak kebaikan sehingga ketika kita menunjukkan sesuatau yang Haq malah itu menjadi cemooh orang orang yang Batil, karena tidak adanya pendekatan yang baik dan yang bisa diterima oleh kalangan masyarakat atau golongan itulah yang menjadikan kita tidak bisa mengarahkan mereka yang sedang dalam lembah hawa nafsunya

jika kita melihat seperti Sunan Kali jogo beliau arif dan bijaksana dalam penyiaran Islam sehingga mampu menjadi daya tarik orang untuk mengikuti tuntunan dari beliau, karena sebenarnya islam itu luas tidak hanya sebatas syare at saja atau harus sama persis seperti yang dilakukan pada zaman Sahabat dulu, islam harus bisa mengikuti arus perkembangan zaman yang semakin modern ini supaya kita tidak selalu berada di bawah bayang bayang kemajuan teknologi

pada jaman wali songo atau sembilan wali pun demikian beliau beliau ini mencampurkan antara budaya dan ajaran islam menjadi satu yang sebelumnya tidak ada pada zaman sahabat yang terpenting adalah tidak melagar ajaran dari Beliau Kanjeng Nabi Muhammad SAW

semoga kita bisa lebih bijak, lebih arif dalam memperjuangkan kebenaran islam sekarang dalam berjuang tidak lagi dengan kekerasan melainkan dengan fikiran dan do'a

“Jalan Kanjeng Sunan Kalijogo Mencari Guru Sejati”

 
Saya akan mencoba mengulas tentang Kanjeng sunan KaliJaga atau Raden Said dalam perjalanan mencari seorang Guru 
Di antara para wali yang lain, Kanjeng Sunan Kalijaga bisa dikatakan satu-satunya wali yang menggunakan pendekatan yang pas yaitu budaya Jawa. Dia sadar, tidak mungkin menggunakan budaya lain untuk menyampaikan ajaran ‘sangkan paraning dumadi’ secara tepat.
Budaya arab tidak cocok diterapkan di Jawa karena manusia Jawa sudah hidup sekian ratus tahun dengan budayanya yang sudah mendarah daging. Bahkan, setelah “dilantik” menjadi wali, dia mengganti jubahnya dengan pakaian Jawa memakai ‘blangkon atau udeng’.
Nama mudanya Raden Syahid, putra adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta dan Dewi Nawangrum. Kadipaten Tuban sebagaimana Kadipaten yang lain harus tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nama lain Tumenggung Wilatikta adalah Ario Tejo IV, keturunan Ario Tejo III, II dan I. Arti Tejo I adalah putra Ario Adikoro atau Ronggolawe, salah seorang pendiri Kerajaan Majapahit. Jadi bila ditarik dari silsilah ini, Raden Syahid sebenarnya adalah anak turun pendiri kerajaan Majapahit.
Raden Syahid lahir di Tuban saat Majapahit mengalami kemunduran karena kebijakan yang salah kaprah, pajak dan upeti dari masing-masing kadipaten yang harus disetor ke Kerajaan Majapahit sangat besar sehingga membuat miskin rakyat jelata. Suatu ketika, Tuban dilanda kemarau panjang, rakyat hidup semakin sengsara hingga suatu hari Raden Syahid bertanya ke ayahnya: “Bapa, kenapa rakyat kadipaten Tuban semakin sengsara ini dibuat lebih menderita oleh Majapahit?”. Sang ayah tentu saja diam sambil membenarkan pertanyaan anaknya yang kritis ini.
Raden Syahid yang melihat nasib rakyatnya merana, terpanggil untuk berjuang dengan caranya sendiri. Cara yang khas anak muda yang penuh semangat juang namun belum diakui eksistensinya; menjadi “Maling Cluring”, yaitu pencuri yang baik karena hasil curiannya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang menderita. Tidak hanya mencuri, melainkan juga merampok orang-orang kaya dan kaum bangsawan yang hidupnya berkecukupan.
Suatu ketika, perbuatan mulia namun tidak lazim itu diketahui oleh sang ayah dan sang ayah tanpa ampun mengusir Raden Syahid karena dianggap mencoreng moreng kehormatan keluarga adipati. Pengusiran tidak hanya dilakukan sekali namun beberapa kali. Saat diusir Raden Syahid kembali melakukan perampokan namun sialnya dia tertangkap pengawal kadipaten hingga sang ayah kehabisan akal sehat.
“Syahid anakku, kini sudah waktunya kamu memilih, kau yang suka merampok itu pergi dari wilayah Tuban atau kau harus tewas di tangan anak buahku”. Syahid tahu dia saat itu harus benar-benar pergi dari wilayah Tuban dan akhirnya, dia pun dengan hati gundah pergi tanpa arah tujuan yang jelas. Suatu hari dalam perjalanannya di hutan Jati Wangi, dia bertemu lelaki tua yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Sunan Bonang. Sunan Bonang adalah putra dan murid Sunan Ampel yang berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.
Syahid yang ingin merampok Sunan Bonang akhirnya harus bertekuk lutut dan Syahid akhirnya berguru pada Sunan Bonang. Oleh Bonang yang saat itu sudah jadi guru spiritual ini, Syahid diminta duduk diam bersila di pinggir sungai. Posisi duduk diam meneng ini di kalangan para yogi dikenal dengan posisi meditasi. Syahid saat itu telah bertekad untuk mengubah orientasi hidupnya secara total seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya dia berjuang dalam bentuk fisik, menjadi perjuangan dalam bentuk batin (metafisik). Dia telah meninggalkan syariat masuk ke ruang hakekat untuk mereguk nikmatnya makrifat. Namun syarat yang diajarkan Sunan Bonang cuma satu: duduk, diam, meneng, mengalahkan diri/ego dan patuh pada sang guru sejati (kesadaran ruh). Untuk menghidupkan kesadaran guru sejati (ruh) yang sekian lama terkubur dan tertimbun nafsu dan ego ini, Bonang menguji tekad Raden Syahid dengan menyuruhnya untuk diam di pinggir kali.
Ya, perintahnya hanya diminta untuk diam tok, tidak diminta untuk dzikir atau ritual apapun. Cukup diam atau meneng di tempat. Dia tidak diminta memikirkan tentang Tuhan, atau Dzat Yang Adikodrati yang menguasai alam semesta. Tidak, Sunan Bonang hanya meminta agar sang murid untuk patuh, yaitu DIAM, MENENG, HENING, PASRAH, SUMARAH, SUMELEH. Awalnya, orang diam pikirannya kemana-mana. Namun sekian waktu diam di tempat, akal dan keinginannya akhirnya melemas dan akhirnya benar-benar tidak memiliki daya lagi untuk berpikir, energi keinginan duniawinya lepas landas dan lenyap. Raden Syahir mengalami suwung total, fana total karena telah hilang sang diri/ego.
“BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA, KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH, LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH….”
Demikian gambaran kesadaran ruh Raden Syahid kala itu. Berapa lama Raden Syahid diam di pinggir sungai? Tidak ada catatan sejarah yang pasti. Namun dalam salah satu hikayat dipaparkan bahwa sang sunan bertapa hingga rerumputan menutupi tubuhnya selama lima tahu. Setelah dianggap selesai mengalami penyucian diri dengan bangunnya kesadaran ruh, Sunan Bonang menggembleng muridnya dengan kawruh ilmu-ilmu agama. Dianjurkan juga oleh Bonang agar Raden Syahid berguru ke para wali yang sepuh yaitu Sunan Ampel di Surabaya dan Sunan Giri di Gresik. Raden Syahid yang kemudian disebut Sunan Kalijaga ini menggantikan Syekh Subakir gigih berdakwah hingga Semenanjung Malaya hingga Thailand sehingga dia juga diberi gelar Syekh Malaya.
“KESADARAN INSAN KAMIL”
Malaya berasal dari kata ma-laya yang artinya mematikan diri. Jadi orang yang telah mengalami “mati sajroning urip” atau orang yang telah berhasil mematikan diri/ego hingga mampu menghidupkan diri-sejati yang merupakan guru sejati-NYA. Sebab tanpa berhasil mematikan diri, manusia hanya hidup di dunia fatamorgana, dunia apus-apus, dunia kulit. Dia tidak mampu untuk masuk ke dunia isi, dan menyelam di lautan hakikat dan sampai di palung makrifatullah.
Salah satu ajaran Sunan Kalijaga yang didapat dari guru spiritualnya, Sunan Bonang, adalah ajaran hakikat shalat sebagaimana yang ada di dalam SULUK WUJIL: UTAMANING SARIRA PUNIKI, ANGRAWUHANA JATINING SALAT, SEMBAH LAWAN PUJINE, JATINING SALAT IKU, DUDU NGISA TUWIN MAGERIB, SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT, PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAM DAIM, INGARAN TATA KRAMA. (Unggulnya diri itu mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).
Di sini, kita tahu bahwa salat sejati adalah tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan sholat lima waktu. Salat sejati adalah SALAT DAIM, yaitu bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA ALLAH. Hu saat menarik nafas dan Allah saat mengeluarkan nafas. Sebagaimana yang ada di dalam Suluk Wujil: PANGABEKTINE INGKANG UTAMI, NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA, PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU, SASOLAHE RAGANIREKI, TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN, TINJA TURAS DADI SEMBAH, IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN. (Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah Tuhan. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah TUhan. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir)
Jadi hakikat yang disebut Sholat Daim nafas kehidupan yang telah manunggaling kawulo lan gusti, yang manifestasinya adalah semua tingkah laku dan perilaku (Akhlak) manusia yang diniatkan untuk menyembah-Nya. Selalu awas, eling dan waspada bahwa apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita kehendaki, apapun yang kita lakukan ini adalah bentuk yang dintuntun oleh AKU SEJATI, GURU SEJATI YANG SELALU MENYUARAKAN KESADARAN HOLISTIK BAHWA DIRI KITA INI ADALAH DIRI-NYA, ADA KITA INI ADALAH ADA-NYA, KITA TIDAK ADA, HANYA DIA YANG ADA.
Sholat daim ini juga disebut dalam SULUK LING LUNG karya Sunan Kalijaga: SALAT DAIM TAN KALAWAN, MET TOYA WULU KADASI, SALAT BATIN SEBENERE, MANGAN TURU SAHWAT NGISING. (Jadi sholat daim itu tanpa menggunakan syariat wudhu untuk menghilangkan hadats atau kotoran. Sebab kotoran yang sebenarnya tidak hanya kotoran badan melainkan kotoran batin. Salat daim boleh dilakukan saat apapun, misalnya makan, tidur, bersenggama maupun saat membuang kotoran.)
Ajaran makrifat lain Sunan Kalijaga adalah IBADAH HAJI. Tertera dalam Suluk Linglung suatu ketika Sunan Kalijaga bertekad pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Di tengah perjalanan dia dihentikan oleh Nabi Khidir. Sunan dinasehati agar tidak pergi sebelum tahu hakikat ibadah haji agar tidak tersesat dan tidak mendapatkan apa-apa selain capek. Mekah yang ada di Saudi Arabia itu hanya simbol dan MEKAH YANG SEJATI ADA DI DALAM DIRI. Dalam suluk wujil disebutkan sebagai berikut:
NORANA WERUH ING MEKAH IKI, ALIT MILA TEKA ING AWAYAH, MANG TEKAENG PRANE YEN ANA SANGUNIPUN, TEKENG MEKAH TUR DADI WALI, SANGUNIPUN ALARANG, DAHAT DENING EWUH, DUDU SREPI DUDU DINAR, SANGUNIPUN KANG SURA LEGAWENG PATI, SABAR LILA ING DUNYA.
MESJID ING MEKAH TULYA NGIDERI, KABATOLLAH PINIKANENG TENGAH, GUMANTUNG TAN PACACANTHEL, DINULU SAKING LUHUR, LANGIT KATON ING NGANDHAP IKI, DINULU SAKING NGANDHAP, BUMI ANENG LUHUR, TINON KULON KATON WETAN, TINON WETAN KATON KULON IKU SINGGIH TINGALNYA AWELASAN.
(Bila tidak tahu Mekah yang sesungguhnya. Sejak muda hingga tua, seseorang tidak akan mencapai tujuannya. Saat ada orang yang membawa bekal sampai di Mekah dan menjadi wali, maka sungguh mahal bekalnya dan sulit dicapai. Padahal, bekal sesungguhnya bukan uang melainkan KESABARAN DAN KESANGGUPAN UNTUK MATI. KESABARAN DAN KERELAAN HIDUP DI DUNIA. Masjid di Mekah itu melingkar dengan Kabah berada di tengahnya. Bergantung tanpa pengait, maka dilihat dari atas tampak langit di bawah, dilihat dari bawah tampak bumi di atas. Melihat yang barat terlihat timur dan sebaliknya. Itu pengelihatan yang terbalik).
Maksudnya, bahwa ibadah haji yang hakiki adalah bukanlah pergi ke Mekah saja. Namun lebih mendalam dari penghayatan yang seperti itu. Ibadah yang sejati adalah pergi ke KIBLAT YANG ADA DI DALAM DIRI SEJATI. Yang tidak bisa terlaksana dengan bekal harta, benda, kedudukan, tahta apapun juga. Namun sebaliknya, harus meletakkan semua itu untuk kemudian meneng, diam, dan mematikan seluruh ego/aku dan berkeliling ke kiblat AKU SEJATI. Inilah Mekah yang metafisik dan batiniah. Memang pemahaman ini seperti terbalik, JAGAD WALIKAN. Sebab apa yang selama ini kita anggap sebagai KEBENARAN DAN KEBAIKAN MASIHLAH PEMAHAMAN YANG DANGKAL. APA YANG KITA ANGGAP TERBAIK, TERTINGGI SEPERTI LANGIT DAN PALING BERHARGA DI DUNIA TERNYATA TIDAK ADA APA-APANYA DAN SANGAT RENDAH NILAINYA.
Apa bekal agar sukses menempuh ibadah haji makrifat untuk menziarahi diri sejati? Bekalnya adalah kesabaran dan keikhlasan. Sabar berjuang dan memiliki iman yang teguh dalam memilih jalan yang barangkali dianggap orang lain sebagai jalan yang sesat. Ibadah haji metafisik ini akan mengajarkan kepada kita bahwa episentrum atau pusat spiritual manusia adalah BERTAWAF. Berkeliling ke RUMAH TUHAN, berkeliling bahkan masuk ke AKU SEJATI dengan kondisi yang paling suci dan bersimpuh di KAKI-NYA YANG MULIA. Tujuan haji terakhir adalah untuk mencapai INSAN KAMIL, yaitu manusia sempurna yang merupakan kaca benggala kesempurnaan-Nya.
Sunan Kalijaga adalah manusia yang telah mencapai tahap perjalanan spiritual tertinggi yang juga telah didaki oleh Syekh Siti Jenar. Berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang berjuang di tengah rakyat jelata, Sunan Kalijaga karena dilahirkan dari kerabat bangsawan maka dia berjuang di dekat wilayah kekuasaan. Di bidang politik, jasanya terlihat saat akan mendirikan kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Sunan Kalijaga berperan menasehati Raden Patah (penguasa Demak) agar tidak menyerang Brawijaya V (ayahnya) karena beliau tidak pernah berlawanan dengan ajaran akidah. Sunan Kalijaga juga mendukung Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang dan menyarankan agar ibukota dipindah dari Demak ke Pajang (karena Demak dianggap telah kehilangan kultur Jawa.
Pajang yang terletak di pedalaman cocok untuk memahami Islam secara lebih mendalam dengan jalur Tasawuf. Sementara kota pelabuhan jalurnya syariat. Jasa lain Sunan Kalijaga adalah mendorong Jaka Tingkir (Pajang) agar memenuhi janjinya memberikan tanah Mataram kepada Pemanahan serta menasehati anak Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati agar tidak hanya mengandalkan kekuatan batin melalui tapa brata, tapi juga menggalang kekuatan fisik dengan membangun tembok istana dan menggalang dukungan dari wilayah sekeliling. Bahkan Sunan Kalijaga juga mewariskan pada Panembahan Senopati baju rompi Antakusuma atau Kyai Gondhil yang bila dipakai akan kebal senjata apapun.

Sunday, June 8, 2014

Doa senjatanya orang muslim


banyak kisah dijaman sahabat dulu yang menceritakan tentang sebuah kekuatan doa yang pertama ketika tentara muslim akan menuju medan perang yang mana pada saat itu jumplah tentara kafir kurais mencapai 10000 dan dilengkapi dengan persenjataan yang hebat pada masa itu sedangkan tentara muslim yang jumplahnya hanya sepertiga dari jumlah kaum kafir saja dan mengunakan senjata yang biasa, saat itu para tentara muslim banyak yang kawatir, tetapi setelah beliau kanjeng Nabi Muhammad SAW menyerukan bahwa "Kita tentara muslim masih mempunyai senjata yang sangat ampuh yaitu Do'a maka dengan berdo'a dan yakin bahwa Allah akan membantu kita akhirnya tentara muslim itu bisa meraih kemenangan dalam mengalahkan tentara kafirkurais yang jumplahnya 3 kali lipat dari jumplah tentara muslim tersebut

dilain waktu jumplah tentara muslim berbalik menjadi yang lebih banyak tapi dengan angkuhnya mereka yakin bisa menang dengan jumplah yg lebih banyak itu tanpa dengan berdoa meminta kepada Allah tapi apa yang terjadi mereka menuai kekalahan dalam peperangan itu

dari kisah tersebut bisa kita ambil sebuah kesimpulan betapa maha dasyatnya kekuatan do'a seorang hamba ini untuk bisa menghancurkan kekuatan yang lebih besar dari yang kita hadapi tapi dengan syarat kita yakin bahwa kekuatan doa itu datang hanya dari Allah bukan dari yang lain lihat di artikel sebelumnya tentang do'a

ketika kita mau mengunakan kekuatan doa itu pada diri kita maka kita akan menyatu dengan kekuatan maha dasyatnya Allah sehingga apa yang kita kehendaki itu adalah kehendak allah bukan kehendak nafsu kita

tak jarang di antara para auliya' yang memiliki karomah ijabah segala perkataan nya ijabah dan bahkan bisa meningkatkan rasa keiamanan seseorang. untuk ini hanya ada satu di setiap zaman yanga kita kenal sebagai sebutan Sultonul auliya', atau wali kutub atau Ghousts dan lain sebagainya

kembali lagi do'a, doa yang ijabah bukanya sulit asalkan kita bisa memunuhi segala syarat dalam berdoa maka doa itu akan sangat dekat dengan ijabah. intinya semakin kita bisa memenuhi syarat dari doa tersebut maka doa kita akan mempuyai peluang ijabah yang semakin besar juga

Ilmu Ekonomi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 
 
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan tersebut kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).
 
Adam Smith diakui sebagai bapak dari ilmu ekonomi
Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.
Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara, yang paling terkenal adalah mikroekonomi vs makroekonomi. Selain itu, subyek ekonomi juga bisa dibagi menjadi positif (deskriptif) vs normatif, mainstream vs heterodox, dan lainnya. Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi — seperti yang telah disebutkan di atas — adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia. Banyak teori yang dipelajari dalam ilmu ekonomi diantaranya adalah teori pasar bebas, teori lingkaran ekonomi, invisble hand, informatic economy, daya tahan ekonomi, merkantilisme, briton woods, dan sebagainya.
Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisis ekonomi adalah "pembuatan keputusan" dalam berbagai bidang dimana orang dihadapi pada pilihan-pilihan. misalnya bidang pendidikan, pernikahan, kesehatan, hukum, kriminal, perang, dan agama. Gary Becker dari University of Chicago adalah seorang perintis trend ini. Dalam artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia. Pendapatnya ini kadang-kadang digambarkan sebagai ekonomi imperialis oleh beberapa kritikus.
Banyak ahli ekonomi mainstream merasa bahwa kombinasi antara teori dengan data yang ada sudah cukup untuk membuat kita mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan mengalami perubahan besar dalam ide, konsep, dan metodenya; walaupun menurut pendapat kritikus, kadang-kadang perubahan tersebut malah merusak konsep yang benar sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan "apa seharusnya dilakukan para ahli ekonomi?" The traditional Chicago School, with its emphasis on economics being an empirical science aimed at explaining real-world phenomena, has insisted on the powerfulness of price theory as the tool of analysis. On the other hand, some economic theorists have formed the view that a consistent economic theory may be useful even if at present no real world economy bears out its prediction.

Ekonomi dalam pandangan Islam


pentingnya menata ekonomi dalam kehidupan kita
sering kita melihat orang orang kaya yang mempunyai semua aspaeak materi mobil, rumah mewah, dan lain lain tapi kita juga pernah menemukan orang miskin yang tidak memiliki apa apa ..

apa penyebabnya?

yaa Ekonomi faktor ekonomi yang mempengaruhi status kita di masyarakat apakah kita menjadi orang kaya, sedang, atau bahkan kita menjadi orang yang miskin. Itu semua diakibatkan karena ekonomi kita bila kita memiliki ekonomi yang kuat maka kita akan menjadi kaya dan sebaliknya jika ekonomi kita lemah maka kita akan menjadi orang miskin

apa toh ekonomi itu? 
Pengertian Ekonomi Islam
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.
Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 105:
Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan itu.
Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw:
Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan.
(HR.Thabrani dan Baihaqi)

Tujuan Ekonomi Islam
Segala aturan yang diturunkan Allah swt dalam system Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.
Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof.Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, yaitu:

1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya.

2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah.

3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjad puncak sasaran di atas mencaku p lima jaminan dasar:

· keselamatan keyakinan agama ( al din)

· kesalamatan jiwa (al nafs)

· keselamatan akal (al aql)

· keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)

· keselamatan harta benda (al mal)

Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:

1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada manusia.

2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.

3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.

4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.

5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.

6. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.

7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)

8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.

Sumber: Buku Saku Lembaga Bisnis Syariah yang diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah.

jika kita bisa menata ekonomi kita dengan baik maka hidup kita pun akan lebih berkualitas untuk menuju itu semua kita harus senantiasa mengerti ilmu ekonomi

Ilmu Ekonomi